Bekasi Summiter

Fun Hiking Education: "Now, Women No Cry!"

Kamilah Kebersamaan Itu

Rinjani #3726mdpl

Mount Everest BaseCamp Nepal 14 Day

Jumat, 09 Mei 2014

Bedah Film 5 CM



Nonbar Film 5 cm

Masih ingat #Kopdar17 tanggal 12 April 2014 di Shelter Garden Alun-alun Kota Bekasi? Saat itu tema yang kami usung adalah “Bedah Film 5cm” dan menghasilkan beberapa opini tentang film tersebut. Yuk, check opini-opini kalian di #Kopdar17 Bekasi Summiter :D

Opini dari Kelompoknya Juwita, Apriel, Fidya, Ghea dan Windy :

Point (+) : 
  •   Kerjasama dan saling menjaga team 
  •  Eksplore keindahan dan kearifan alam Indonesia 
  •  Pendakian melalui perizinan dan selalu berdua 
  •  Efek musik dan visualnya bagus
Point (-) : 
  •  Setiap orang di team ga tau tujuan awal mau kemana itu berdampak sama persiapan perlengkapan, mental dan fisik yang tidak matang 
  • Packing carrier ga standar (tenda ditenteng, jaket ditenteng, matras diluar menghambat perjalanan) 
  • Pembekalan minim khususnya air 
  • Banyak penggunaan api unggun 
  • Pakaian dan celana menggunakan jeans 
  • Barang ditinggal ditenda dan tak ada orang yang menjaga 
  • Pada saat incident team yang cukup fatal, masih meneruskan pendakian dan itu bisa berbahaya
    Kesimpulan(+/-) :
    Pendakian tidak hanya mengeksplore keindahan, bukan hanya berada dipuncak tapi untuk kembali pulang dengan selamat.

Opini dari Kelompoknya Berly, Satrio, Priyadi, Ian, Rya dan Ucok :

Point (+) : 
  • Film yang mengajarkan tentang persahabatan, kebersamaan, semangat dan kerja keras untuk mencapai suatu tujuan
Point (-) : 
  • Persiapan yang kurang modal terutama dalam hal mendaki gunung yang tertampil dalam scene 
  • Kurang mengedukasi penonton dalam hal mendaki

Opini dari Kelompoknya Hanis, Bubu, Virdhi, Asri dan Reza :

Point (+) : 
  • Dari sudut pandang cerita bagus karena mengangkat tema persahabatan, kebersamaan dan solidaritas.
Point (-) : 
  • Pendakian kurang memperhatikan safety procedures peralatan, persiapan pengetahuan teknis. 
  • Cara penanganan pertama pada kecelakaan khususnya pada saat nafas buatan.

Opini dari Kelompoknya Idin, Pura, Ucok, David dan Ridho :

Point (+) : 
  • Keluarga dan persaudaraan 
  • Mengagumi Sang Maha Pencipta Atas Ciptaannya 
  • Kerja keras dan Usaha 
  • Mengenalkan kegiatan Alam.
Point (-) : 
  • BANYAK ! Tidak bisa disebutkan satu persatu.

Opini dari Kelompoknya Mamdu, Anis, Farras, Ryo dan Inndy :

Point (+) : 
  • Membuat kita lebih cinta Indonesia 
  • Banyak memberi motivasi 
  • Mengajarkan solidaritas
Point (-) : 
  • Tidak sesuai SOP Safety Procedures Pendakian.

Opini dari Kelompoknya NONAME ! :

Point (+) : 
  • Membuat pendaki pemula tertarik untuk mendaki.
Point (-) : 
  • Tidak punya persiapan air.

Opini dari Kelompoknya NONAME LAGI ! :

Point (+) : 
  • Tema dari filmnya kan persahabatan, nah untuk persahabatannya sih udah dapet 
  • Kedua buat motivasi bagus banget cara film ini menyampaikannya.
Point (-) : 
  • Cerita dari novel banyak dipotong.

Opini dari Kelompoknya NONAME LAGI LAGI ! :

Kesimpulan (+/-) : 
Pasti ada sisi baik dan tidaknya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Yang pasti ambil baiknya saja, yang ndak baik ya gak usah. Yayaya.

Begitulah hasil bedah baik dan buruknya tentang Film 5cm yang kami jadikan tema di #Kopdar17 Bekasi Summiter. Dengan adanya sharing #Kopdar tentang Film ini banyak yang kami harapkan bukan hanya sekedar penilaian buruknya saja. Tapi dalam sebuah karya selalu memiliki nilai baiknya. Jadilah pendaki yang tidak hanya mengandalkan rasa apatis terhadap lingkungan sekitar baik alam dan makhluk hidupnya termasuk karya dari sebuah imajinasi tanpa batas.


-Bekasi Summiter-





Senin, 28 April 2014

[Catper] Fun Hiking Education by Aliyya Fadhilla

Hai.

Anda baru saja membaca pembukaan catatan perjalanan seorang anak kecil berusia 15 tahun(?) 15 tahun kok kecil? Yah anggap saja seperti itu. Halah tijel.


Ini adalah catper pertama Gue, insyaallah ini bakal selesai, sebelumnya Gue sudah mencoba membuat catper pendakian perdana Gue ke Cireme tapi sayangnya terlalu mager untuk melanjutkan dan sekarang entah apa kabarnya si file itu.


Gue membuat catper ini karna disuruh alumni dan panitia event, Gue juga bingung sendiri kenapa Gue iya-in, yang jelas karna Gue orangnya menepati janji *benerin kerah* yaudah Gue bikin deh ni catper *pembukaan pertama*

Sangat disayangkan di hari ulang tahun gue, gue harus meninggalkan bekasi. Tapi sebenernya gue cukup  seneng, sisi baiknya adalah gue tidak harus mentraktir orang-orang itu dan handphone gue pun tidak akan berisi ucapan-ucapan selamat yang tidak jelas karna handphone gue akan tewas untuk sementara, haha. Gue sendiri akan merayakannya bersama peserta dan panitia #FHE2014 Now Women No Cry yang notabene sampai sekarang ga ada yang tahu ulang tahun gue kecuali setelah membaca pembukaan tadi *terus kalo mereka gatau, apaan dong yang dirayain?* ya sebenernya ga ada perayaan, intinya gue seneng aja hari itu gue berada di tempat yang tidak biasa bersama orang-orang yang tidak biasa pula. By the way, apaan tuh #FHE2014? Lebih lengkapnya Fun Hiking Education ‘Now, Woman No Cry’, ini adalah event edukasi pendakian yang diadakan salah satu wadah penggiat alam di Bekasi yaitu Bekasi Summiter. Ga ngerti yah? Samma, saya juga. Silahkan googling atau otak-atik twitter anda.

Jum’at, 18 April 2014

Hari itu gue janjian kumpul di alun-alun jam 11.00, tapi karna ada kesalahan teknis dirumah, jadi gue berangkat jam 11 lewat, gatau nyampe jam berapa, yang jelas pas gue nyampe udah ada orang. Sampe disana gue langsung join team gue, yaitu team 2, team paling kece paling imut paling manis paling rusuh paling sering cekcok dan paling paling yang lainnya. Gue disuruh menamai barang-barang gue biar ga ketuker, dengan berat hati gue membongkar packingan gue, kenapa dengan berat hati? Karna gue sangat sayang dengan hasil packingan gue yang sangat apa adanya, kenapa sangat apa adanya? Jawabannya adalah karna gue bukan anak seni. Gangerti? Bodo.

Gue sendiri baru inget kalo carrier gue belum dimasukkin sleeping bag, jadi gue dengan senang hati menunggu head gue (ka deting) dateng untuk meminta sb dari panitia dan mempacking carrier gue *biarkan deting berkarya, haha. Setelah gue gabut mondar-mandir sana-sini, akhirnya peserta disuruh gendong carrier masing-masing dan berjalan menuju tronton yang akan membawa kita ke tujuan. Ternyata cuma naro carrier ajah, abis itu freetime, hahhh. Waktu freetime itu gue gunain buat makan romantis bareng temen gue, Windy. Kenapa romantis? Karna gue makan sepiring berdua dan gue nyuapin dia. Kenapa disuapin? Banyak nanya lo ah, makanya sekali-sekali ketemu dong sama si Windy ini.

Setelah makan kita balik ke tronton, dan disitu kita disuruh nunggu, nunggu yang lama, bukan nunggu yang sebentar.Dan Lo tau ternyata dari tadi kita nunggu apa? Kita nunggu PIN! PIN #FHE2014! Subhanallah ga tuh, gua sendiri gatau kenapa gue nyebut barusan. Setelah lama nunggu, akhirnya gue nyeletuk, “ah, ini mah bener berangkat jam 9 dah” ehhhh, lo tau apa?? Ga lama setelah itu gue berangkat! Coba gue nyeletuk gitu dari tadi, huh eteb. Akhirnya gue cawww dari Bekasi jam 04.30 sore.
image
on the way. gue yang paling pojok kiri yang paling cool

Menurut gue dijalan itu boring, bukan boring karna bosen dan gaada obrolan, tapi boring karna gue ga bisa tidur(?) tijel lo dil. Keboringan gue itu gue isi dengan ngeliatin orang-orang di dalem tronton, dengan kata lain gue gabut, sampe akhirnya sempet ketiduran-bangun-ketiduran-bangun.
Bulan sudah lama menampakkan dirinya, tronton berhenti di suatu tempat yang mengganggu tidur gue. Ternyata eh ternyata, kita masih di Cianjur, hhh. Kita rest dulu disitu sebentar, pipis, jajan, ngopi, dll. Ga pake lama, kita pun melanjutkan perjalanan, katanya sih kita udah deket sama tujuan kita, dan yang ngeselin adalah, gue dapet posisi enak buat tidur saat itu, hhh, kenapa sih PW selalu datang saat tidak lama kemudian dia harus pergi :(

Setelah memasuki suatu jalan kecil yang menanjak dan berbelok-belok disertai pemandangan gunung malam hari, akhirnya tronton gue berhenti, dan katanya…KITA UDAH SAMPE. Sampe dimana? Ya di Basecamp pendakian Mt. Gede-Pangrango via Gn. Putri. Dasar emang udah kebal sama dingin, gue yang make kaos dan celana pendek tetep ga kedinginan, padahal yang lain mulutnya udah pada keluar uap. Gue pun mencari carrier gue dan langsung mengumpulkan anggota team gue, abis itu langsung caw ke basecamp sama ka deting. Gue udah mulai was-was saat jalanan mulai menanjak, kenapa? Ada deh, ada suatu pengalaman di cireme yang bikin malu pake banget. Untungnya, jarak basecampnya ga jauh, Alhamdu…lillah.

Sampe di basecamp gue langsung masuk ke rumah yang udah disiapin panitia untuk kita, rapi-rapi, makan, setelah itu tidur. Di waktu tidur yang harusnya gue gunain untuk istirahat, ternyata tidak seperti harapan gue. Temen gue, Windy, tiba-tiba sakit, masuk angin dan bermasalah di lambungnya, sehingga gue harus siap sedia kalo terjadi apa-apa. Lagi-lagi, si PW datang telat, ayam udah berkokok, baru aja gue dapet selimut, eh kita semua disuruh bangun -_- hhh. Daripada gue keinjek-injek orang yang lalu-lalang ya akhirnya gue bangun.
image
sunrise dari basecamp putri

Hal yang lagi-lagi gue benci, packing. Tapi akhirnya ka deting lagi yang berkarya, eheheh. Lagi-lagi gue gabut…lagi…yeah. Kebiasaan buruk gue adalah, gue tidak memperhatikan jam, jadi di setiap trip gue hanya akan mengira-ngira ini jam berapa. Udah lumayan jauh dari kata pagi, kita mulai berkumpul untuk stretching dan team satu pun jalan pertama, beberapa abad kemudian team dua dan seterusnya.
image
stretching dolo

Lagi-lagi…menunggu. Ternyata kita menunggu simaksi disini, plak. Udah dibuat menunggu karna simaksi, gue juga jadi melakukan sesuatu yang gajelas karna ekor gue, Bang Farras. Dia niat bikin video untuk team 2, tapi…tapi…tapi, au ah-oo- dia juga ngasih kita beberapa pertanyaan seputar gunung, berhadiah. Tijel memang orang itu. Udah nunggu cukup lama, simaksi pun jadi. Team satu jalan diselingi team 2 beberapa menit kemudian.

Gue udah hapal banget rasanya naik gunung, di menit-menit pertama, kita masih harus berjuang untuk adaptasi sama lingkungan, jadi masih capek atau apalah itu. Setelah melewati pos pertama (itu mungkin yang dinamakan buntut lutung, entahlah), kaki gue udah mulai enak diajak jalan. Dari awal nafas gue juga enggak ngos-ngosan seperti biasa, ajaib tumben, tapi yang pasti Alhamdulillah.
Sepanjang jalan bisa dibilang aneh, gue ga pernah ngalamin ini sebelumnya. Kabut, kabut yang bener-bener tebal, sampe jarak pandang pun ga jauh, padahal ini belum jam 10, atau mungkin ini awan? Entah. Gue bingung sama diri gue sendiri, gue kegerahan, terus lengan baju dilinting, tapi terus dingin, tau ah. Lagi-lagi gatau jam berapa, kita ketemu team satu di track, ga jauh dari situ ternyata respoint satu, langsung aja semangat lari.

Cuma sekedar bikin minum dan makan roti, gue yang udah mulai dingin akhirnya lanjut jalan, dan tentu aja bareng sama team gue. Perjalanan menuju restpoint dua ini cukup jauh, perjalanan bisa dibilang mulai asik, karna kita mulai salip menyalip sama team lain, bahkan anggota team gue sendiri udah ngacir entah kemana. Gue sih seperti biasa, jalan santai di belakang sambil nemenin anggota team gue yang jalannya mulai lama.

1 point sebelum restpoint dua, helper gue udah menunggu sambil bawa raincoat. Dia menawarkan diri untuk membawakan carrier gue, tapi gue menolak dengan alasan utang carrier di ciremai. Gue pun melewati dia dan beberapa tanjakan sebelum restpoint dua, lagi-lagi ada helper yang menawarkan diri membawakan carrier gue, dan lagi-lagi gue menolak, malah gue sampai mengusir mereka, hehe maap….

Akhirnya! Restpoint dua! Hhh, restpoint dua ini ada di simpang maleber, vegetasi udah mulai pendek yang tandanya juga udah hampir deket tujuan kita. Hari udah semakin sore, daripada ngalamin yang tidak diinginkan (read:hujan) kita pun ga berlama-lama disitu dan lanjut perjalanan lagi. Belajar dari kesalahan, gue bersama 2 anggota gue meninggalkan Ka Putri yang sakit bersama panitia.
Ada sesuatu yang jleb disini, gue denger ka deting bilang ke bang farras “Ras, temenin tuh si Putri, udah mulai ga nalar diajak ngobrol”. Yang ada di pikiran gue saat itu adalah ‘please, jangan untuk yang kedua kalinya di gunung yang sama. Please’ beruntung gue punya temen yang pengertian dan bisa menenangkan gue. Kita pun lanjut bersama semua peserta dan beberapa advance dan leader. Gue disitu terus ngasih semangat ke temen gue, Annisa yang keliatannya udah mulai celeng. Sambil membopong dan terus ngedorong dia biar terus jalan, selama setiap 5 detik gue terus mengucapkan ‘dikit lagi’ ‘ayo dikit lagi’ ‘tuh langitnya udah mulai keliatan’ ‘itu vegetasi udah pendek’ ini juga yang dialamin kalo lagi naik gunung, udah mau nyampe tujuan biasanya mager, tapi kan ga mungkin kita berenti disitu, tanggung.
image
ehehe, adanya fotonya bang pri, punten bang fotonya dipake

Akhirnya, kita menemukan sesuatu, kalo kata senior gue sih surga. Di sebuah jalan yang gelap, tiba-tiba ada sebuah titik yang terang. Ya, itu surganya. Alun-Alun Surya Kencana. Temen gue yang seketika lemes tadi langsung jadi semangat. Sayang, si anaphalis javanicanya lagi ga mekar L kita pun bertiga-tiga an mencari dimana camp kita, hhh, ternyata alun-alunnya luas yah, ampe capek. Finally udah ngiterin dari ujung-ujung, ketemu juga ehehe.
image
akhirnya ketemu juga, yeay!

Dibantu sama ekor gue yang gue sendiri bingung kok dia bisa ngebalap gue dan team, kita beres-beres barang. Setelah itu ganti baju, terus ngeluarin logistik deh. Yeay, dinner! Katanya sih, ka putri udah baikan, dia akan melanjutkan perjalanan sampe sini, eh bener, ga lama kemudian si doi dateng, uyeee.

Berbeda sama team lain, disini kita dinner ala eropa. Kok bisa? Bisalah, secara menunya lasagna dan pizza, ga mainstream kan? Hahaha. Mungkin udah sekitar jam 7 malem, acara kok ga mulai-mulai? Bosen, kenyang, gue tidur. Sabodo teuing jeung materi, aing geus tunduh. Tengah malem gue kebangun, lah kok ini udah tumbang semua. Gua kedinginan, pengen keluar tapi mager, salahnya adalah gue ga bawa kopi, hhh-_- malam masih panjang dan gue lanjut tidur. Jam 3 pagi team gue mulai kerasak-kerusuk, tidur lagi, sejam kemudian baru bangun. Baru mau masak aer, head gue dateng, masak lah kita pagi itu. menu pagi ini adalah nasi goreng pake daging giling, pou, dan potato mash, atau kalo kata ka agit, kentang menye menye.

Sunrise udah keliatan, yang lain foto-foto keluar, gue dan farras memilih untuk stay di tenda, untung disini kita cek-coknya ga hebat, bisa-bisa nesting melayang. Sekitar jam 7 pagi, kita semua keluar untuk sebuah acara, baca puisi dan pembacaan peserta terbaik, tersolid dll. Gue kepilih menjadi salah satu peserta terbaik yang sampe sekarang gue masih penasaran itu dipilih berdasarkan apa. Hari mulai siang, semua mulai packing. Sekitar jam setengah 10 kita mulai berangkat summit, gue sampe di puncak sekitar jam 11-an lah, kalo ga salah. Menjelang sampe puncak, hujan gede, untung gue udah nyampe. Saat nyamperin spot gue dan rombongan, temen gue udah tergolepak kedinginan ditemenin sama farras. Langsung gue bantuin farras untuk nanganin dia.

   

Air anget, pijitin, udah semua. Ajak ngobrol? Jelas, sampe gue becandain juga udah. Tapi dia masih belum bisa bangun dari sleeping bag, dia cuma senyam-senyum dan kadang ketawa. Rombongan udah banyak yang turun, gue masih diatas nemenin Annisa. Sampe sekitar jam 3an akhirnya gue turun, gue memercayakan annisa sama panitia, yakin kok pasti baik-baik aja.

Kandang badak, rest. Ga lama juga karna ga mau kena track malem, lanjut turun. Gue yang kedinginan akhirnya menyusul kak ju “Kak, sendirian aja” “iya nih” “dingin nih kak, ajak gue ngobrol dong” ngobrol lah gue dan kak ju berdua dua an. Kandang batu, lewat, nyampe lah di air panas. Gue sempet kepeleset sampe tiduran disitu, gue udah mikir ‘duh mateng deh gue’ ehh, pas dipegang airnya dingin, untung pake raincoat juga, bajunya ga basah semua deh. Di depan, kaki kanan gue nyemplung ke air, dan ternyata airnya…panash!

Berhasil ngelewatin air panas, kayanya sih ini maghrib, gue mulai pasang headlamp. Jalanannya itu bro, beuh, batu! Bikin kaki sakit! Ngerusak sepatu! Di tengah jalan sempet-sempetnya gue dan kak ju berenti untuk makan pudding coklat dulu, seger bingit rasanya, tenaga mulai terisi, lanjut jalan lagi. Lama kelamaan gue dan kak ju jalan berduaan aja, sampe di panyangcangan. Lagi-lagi ketemu ka deting disitu. Kita melanjutkan perjalanan ber3. Semakin malem, mata gue tinggal 5watt, entah karna faktor ngantuk, 5L, atau karna hujan yang bikin jalan tambah ga keliatan. Di sebuah shelter kita ketemu bang kardus (kalo ga salah bener bang kardus), cuma duduk bentar dan minum, kita lanjut ber4, akhirnya…sampe juga di resort. Ga pake lama di resort, gue langsung turun ke basecamp, warung mang didi. Jalan ber2 sama bungsu ngobrol apa aja, dari mulai cowo ganteng, panitia yang baik, sampe kejadian di track. Udah ke jalan aspal, ternyata bang billy nungguin kita, dia nyuruh gue kasih carrier gue ke dia biar jalan cepet, lagi-lagi makasih.

Ternyata beberapa orang udah ada di basecamp, gue yang udah capek maksain diri untuk bersih-bersih biar bisa tidur. Abis itu makan, join anak-anak, tidur deh. Sekitar jam 3 pagi, gue kebangun karna rame, bener aja, disitu ada ka oci dll. Berarti rombongan terakhir udah nyampe. Gue yang lelah tidur akhirnya cuma duduk aja sambil ngedengerin orang ngobrol. Sekitar jam 5 pagi gue masih bangun, sebenernya gue disuruh tidur tapi ga tidur juga. Jam 6 pagi, anak-anak pada molor lagi, ga ada yang bisa gue ajak ngobrol, gue pun ikutan tidur. Gatau jam berapa, kita bangun dan siap-siap pulang. gue sih anteng makan karna barang gue ga ada yang berceceran, niat jalan jam 10 ujung-ujungnya jalan jam 11. Kita naik angkot dari basecamp sampe ke stasiun bogor. Kok naik angkot? Yesh, kita udah ditinggalin tronton semalem, sebenernya bisa pulang tadi malem naik tronton, tapi orang-orang ini adalah orang yang sudah memilih jalannya, alias ngeteng.

bang ilham, bang farras, ka oci

Dari stasiun bogor, jelas kita naik kereta alias commuter line deng. Suasana cukup lengang, rombongan gue sendiri ga punya malu untuk selca sana-sini. Transit di manggarai, sumpah padet banget, mana bawa carrier gede-gede. Bertahan sekitar 20 menit nyampe juga di stasiun bekasi. Kita pun jalan kaki menuju alun-alun. Hahhh, rasanya itu…ga ada rasanya sih. Kita gelaran, lesehan, tiduran, mesen makan dan minum. Sore itu indah banget, gatau indahnya kenapa, tapi indah sih, sunsetnya indah, cuacanya indah.

Ga lama abis maghrib gue dijemput nyokap, ditemenin farras gue nyamperin nyokap gue, setelah dia berbasa-basi sama nyokap, gue cawww balik. Capek, lelah, ingin lagi, semua campur aduk kaya gado-gado. Perjalanan ini sukses, apalagi kalo baju dan gear udah dicuci, itu tambah sukses.
Di perjalanan yang ga biasa ini, banyak yang gue dapetin, pengalaman baru, teman baru, semua mua yang baru. Sampe beberapa hari pun, temen-temen gue masih ga bisa move on dari #FHE2014 ini, begitupun gue. Gatau harus ngucapin apa, ga perlu bertele-tele juga, semua ucapan gue akan diwakilkan dalam satu kata ‘Thank You!’

 


tulisan ini diambil dari blognya si Dilla: http://laicehusky.co.vu/post/84124392817/fhe2014
thx dil :)

Jumat, 11 April 2014

Surat Cinta TALAGO

Surat Cinta ini dibacakan saat Event Earth Hour
Bekasi Square
Sabtu, 29 Maret 2014




Dear Kakak-kakak Tercinta…

Hai kak, bagaimana kabarmu hari ini? 
Semoga baik-baik saja, yaa..

Kak, izinkan kami bercerita..
Kakak tahu siapa kami? Kami adalah siswa-siswi dari SDN 04 Pantai Bahagia, Muara Gembong. Kakak tahu dimana letak sekolah kami? Atau, Kakak tahu dimana itu Muara Gembong? 

Kami kasih tau yaa, kak.. 
Muara Gembong itu masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Bekasi, kak. Jika kakak kesini, kakak harus menempuh perjalanan selama ±3jam sejauh puluhan kilometer. Dan kendaraan yang bisa kakak gunakan hanya kendaraan pribadi. Itu pun tidak semua jenis, kak.. Lalu untuk menjangkau sekolah kami, kakak harus menggunakan kapal untuk menyebrang sungai kebanggaan kami kak, Sungai Citarum.

Tapi saat ini yang ingin kami ceritakan bukanlah tentang perjalanan ke sekolah kami. Tapi tentang bagaimana sekolah kami ya, kak.. Dengarkan ya kak :)

Yaa, sekolah kami sama seperti sekolah Negeri pada umumnya. Hanya saja mungkin kami sedikit kurang beruntung. Letak sekolah yang berdekatan dengan pantai menyebabkan kami harus rela menerima kiriman air secara tiba-tiba disetiap bulannya.. Kakak tahu itu air apa? Itu adalah air rob kak.. Air laut yang meluap dan menyebabkan sekolah kami banjir. Kedatangan tamu setiap bulan itulah yang membuat sekolah kami istimewa. Lapangan sekolah yang seharusnya bisa kami gunakan untuk berbagai kegiatan tidak bisa kami pakai karena kondisinya lebih sering tergenang air, kak.  

Tapi itu semua tidak membuat kami malas untuk ke sekolah. Kami tetap bangga karena masih ada yang peduli terhadap sekolah kami. Itu membuat kami semangat pergi ke sekolah, kak..

Dan tahukah kakak, akhir bulan Februari lalu ada sekelompok kakak yang baik hatinya mengunjungi kami. Mereka datang ke sekolah kami dan mengajak kami bermain sambil belajar. Mereka membuat sebuah kegiatan yang diberi nama TALAGO (Taman Belajar Muara Gembong).


Adik-adikmu di SDN 04 Pantai Bahagia Muara Gembong



Siapa kakak ini?
Kenapa mau ke sekolah kami??

Mereka memperkenalkan diri dan mengajak kami joget bersama, Kak!!! Yeeeaaayy!!

Kami diberi name tag untuk kami tuliskan nama kami masing-masing, kak. Kemudian kami diajak bermain dengan bahasa inggris. Itu menyenangkan sekali, kak..

Banyak sekali kami bermain dan semuanya seru sekaliii, kak.. :D Banyak dari kami yang beberapa kali salah dan tidak membuat kami takut kak untuk mencoba lagi. Karena kakak selalu tersenyum dan memeluk kami, kak.. Kami semua sayang sama kakak.. :’)  

Waktu menunjukkan semakin siang.. Kami pun berterima kasih kepada kakak Talago, karena kami senang hari ini.. Sebelum kami pulang ke rumah, kakak Talago mengajak kami berdoa. Saat itu yg memimpin doa adalah salah satu teman kami.. 


Nah kak, setelah mendengar cerita kami ini, apa kakak tertarik untuk mengunjungi kami juga?

Ayo kaak, kunjungi kamii..
Bergabung bersama kakak Talago untuk mengunjungi kami dan belajar sambil bermain bersama kami. Pasti kami akan semakin senang jika kakak Talago yg datang mengunjungi kami semakin bertambah.. 


Sekian dulu yaa kak cerita kami, lain waktu kita lanjutkan kembali ceritanya.. Salam rindu dari kami, kak.. Kami tunggu kehadiran kakak semua di sini, di tempat kami.. 


Tertanda,
Adikmu di SDN 04 Pantai Bahagia, Muara Gembong


Volunteer
Taman Belajar Muara Gembong (TALAGO)

Rabu, 19 Maret 2014

Jika Tersesat Saat Pendakian

Postingan ini dibuat untuk merangkum tutur-twit @B_Summiter dengan hashtag #Nyasar...



Banyak di Google mengaitkan peristiwa tersesat dengan sesuatu yang mistis. Namun menurut admin @B_Summiter, dicerna dulu secara logika faktor tersesat saat pendakian. Faktor tersesat terdiri dari dua hal, yaitu:
  1. Faktor Eksternal, hal ini disebabkan oleh jalur yang tidak jelas. Seperti jalur yang bercabang, namun tak diberikan tanda/petunjuk di jalur yang bercabang.
  2. Faktor Internal, ada di dalam diri sendiri. Antara lain kurangnya pemahaman membaca petunjuk jalur seperti ribon atau stringline, bisa karena ego pendaki, tidak tenang dan tidak fokus saat pendakian.


Bagaimana cara mengantisipasinya?


  1. Diwajibkan pendaki berdo'a kepada Sang Khalik setiap melakukan pendakian. Berdo'a atas keselamatan setiap saat.
  2. Pendaki diwajibkan memakai jalur pendakian resmi. Kalau mau sok tahu jangan merepotkan orang lain nantinya.
  3. Jangan lupa daftar di basecamp saat mau memulai pendakian. Tujuannya jika nanti hilang ada petugas dan ranger yang siap mengevakuasi.
  4. Tetaplah pada jalur pendakian yang diarahkan oleh petunjuk jalur untuk keselamatan.
  5. Saat pendakian, tangannya diajarkan untuk tidak usil merusak atau menghilangkan petunjuk jalur.
  6. Fokus! Kalau lelah istirahat sejenak sampai bisa fokus kembali. 
  7. Open Camp diperlukan jika keadaan sudah terlalu lelah. Dirikan tenda di tempat yang aman dan tidak mengganggu jalur.
  8. Jika tidak memungkinkan camp (misal: tersasar saat summit) baiknya kembali turun melalui jalur yang sudah dilalui. 
  9. Carilah informasi mengenai jalur yang akan dilewati baik mengamati peta jalur di basecamp, maupun bertanya pada petugas dan pendaki lain. Malu bertanya sesat di jalur.
  10. Ketika menemukan jalur bercabang tanpa adanya petunjuk di jalur, ingat informasi dari basecamp
  11. Tetaplah tenang karena secara logika, jejak kaki dan jalur yang bertanah lebih menjadi pilihan.
  12. Kalau jalur becabang juga bertanah, coba cari sampah atau tanda ribon dan stringline yang biasa diikat dipohon.
  13. Dan kalaupun itu juga tidak ada, cobalah perkuat do'a dan menunggu sejenak pendaki lain melintas.
  14. Maka dari itu perbanyaklah informasi mengenai jalur yang akan dilewati, demi menghindari keadaan tersesat.
  15. Dan tidak mencoba-coba membuka jalur sendiri tanpa pembekalan dan pemahaman Survival.
Tetap tenang, fokus pendakian, tidak ego, memiliki informasi yang banyak dan cukup pengetahuan tentang mountaneering adalah modal utama yang wajib dimiliki seorang pendaki. Tersesat saat pendakian tidak akan terjadi, jika seorang pendaki itu cerdas mempersiapkan untuk mementingkan Keselamatan dirinya dan kelompoknya. INGAT! Pendakian terbaik jika seorang pendaki mementingkan Keselamatan, bukan Keinginan!

Jadilah Pendaki yang Cerdas!
@B_Summiter


*foto-foto: google search

Senin, 17 Maret 2014

Fun Hiking Education; "Now Women No Cry!"




Fenomena pendakian gunung atau mountaineering dan segala bentuk petualangan di dalamnya telah menjadi gaya hidup sendiri bagi penikmatnya, fenomena yang terjadi diakibatkan Indonesia terlalu indah untuk dilihat dari atas awan. Banyaknya faktor yang menyebabkan pendakian gunung sekarang lebih diminati oleh hampir semua kalangan dari berbagai usia baik laki – laki ataupun wanita dalam kurun waktu ±2 tahun belakangan ini. Peran media dan lingkungan berpengaruh besar terhadap besarnya minat kegiatan pendakian sekarang ini, itu hal positif terhadap kecintaan kita terhadap alam di Indonesia, namun juga berdampak negatif karena banyaknya minat pendakian tidak didasarkan pada pembekalan dan pemahaman tentang kegiatan mountaineering. Hal ini akan menjadi ironis baik untuk alam dan peminatnya ketika alam sudah tidak bisa menjadi sahabat karena ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman serta pembekalan tentang pendakian, banyak hal yang akan terjadi termasuk rusaknya alam dan bagi para pendaki akan berdampak sampai kematian. Di jaman sekarang sangat vital terhadap fenomena pendakian ini, kegiatan pendakian yang sebelumnya banyak didominasi oleh kaum laki – laki, sekarang telah menyebarluas peminatnya terhadap kaum wanita. Namun, khususnya untuk para pendaki wanita kurang memiliki pemahaman dan pembekalan tentang kegiatan pendakian atau mountaineering sehingga banyak permasalahan – permasalahan yang akan terjadi saat pendakian berlangsung.

Oleh karena itu, kami yang bergerak sebagai wadah penggiat alam di Bekasi ingin memberikan pemahaman dan pembekalan kegiatan mountaineering terhadap pendaki wanita khususnya untuk usia yang baru mengenal kegiatan alam bebas di jenjang sekolah menengah atas. Melalui kegiatan ini diharapkan srikandi – srikandi muda berperan langsung melihat indahnya negeri ini serta berjuta potensi di dalamnya dari ketinggian dan memupuk kesadaran untuk menjaganya dengan pembekalan dan pemahaman tentang kegiatan mountaneering. And now is the time for change. Now, women no cry! 

Event Mountaineering ini khusus untuk 30 Siswi SMA/SMK/Sederajat di MT. Gede - Bogor, Jawa Barat pada tanggal 18, 19 dan 20 April 2014. Biaya Registrasi sebesar Rp 160.000/orang.

Include :
  • Sewa Peralatan Camp
  • T-Shirt
  • Makan 3x
  • Transport PP
  • PIN Kegiatan Fun Hiking Education
  • Voucher Diskon 10-30% Kangaroo Outdoor
  • SIMAKSI (Tiket masuk Pendakian TNGGP)

Materi Edukasi :
  • 30 peserta dibagi 6 team dan masing-masing team dikoordinir oleh 1 Leader Wanita dan 1 Leader Pria dari Panitia untuk segala kebutuhan perlengkapannya.
  • Selama 2 Minggu sebelum pelaksanaan peserta diberikan modul, pembekalan dan pemahaman tentang Mountaineering selama 6x pertemuan oleh Leader Team masing-masing.
  • Materi dasar pembekalan dan pemahaman tentang mountaineering yaitu tentang Safety Procedures Pendakian, Penanggulangan Pertama Hypothermia dan Cidera, Pengenalan Jenis Sampah, dll.
 
 Pendaftaran paling lambat tanggal 31 Maret 2014. Siswi yang berminat dan ingin JOIN bisa menghubungi Divisi Humas dan Sponsorship dibawah ini.

Contact Person :
Billy Gunarto 089659617732
Ilham Sutiawan 08977060179

[Sharing] Penanganan Hypotermia

Hypothermia ialah suatu keadaan dimana terjadinya penurunan suhu tubuh pada kondisi tertentu. Dalam hal ini ketika kita sedang mendaki gunung/titik yang tinggi dan rendah suhu. Beberapa contoh gejala awal bagi korban yang terserang Hypothermia adalah merasa kedinginan, menggigil, suhu bagian dalam tubuh korban semakin rendah, mulai hilangnya kesadaran sampai menimbulkan gerakan-gerakan yang tidak terkontrol (halusinasi) hingga kematian. Hypothermia dapat terjadi karena suhu yang di miliki seseorang tersebut di bawah suhu normal manusia yaitu 36-37 derajat celcius.

Hypothermia biasanya terjadi pada suhu antara -1° C sampai 10° C (Sebagian orang tidak berpikir bahwa pada suhu -1° C sampai 10° C adalah dingin).

Serangan Hypothermia menjadi momok yang menakutkan bagi para pendaki gunung dimanapun berada. Oleh karena itu mari kita kenali penyebab, cara pencegahan dan penanganan darurat untuk mengantisipasi terjadinya Hypothermia pada saat kita melakukan pendakian.

 
Penyebab Hypothermia:
  • Terkena suhu udara yang rendah dibawah daya tahan tubuh si korban;
  • Dalam keadaan basah;
  • Terganggunya peredaran darah sehingga mengakibatkan hilangnya panas tubuh secara signifikan;
  • Kelelahan fisik;
  • Kurangnya asupan makanan/minuman yang bergizi selama melakukan pendakian;
  • Konsumsi minuman beralkohol yang menyebabkan kesadaran hilang